Menghapus Keraguan

Dia berjalan di sampingku. Sebuah jarak beberapa meter memisahkanku darinya. Matanya tak pernah sedikitpun bergerak dari satu titik, yang menurutku hanyalah sebuah ilusi. Ia mencoba bertanya tanpa kata. Hanya ada satu hal yang nampak dari gerak bibirnya yang tanpa kata. Sebuah keraguan tak berujung.

Dia tahu, seberapa besar aral rintang yang ada di hadapannya nanti. Dan dia takut tentang keberadaanku nanti, di masa depan kami.

Aku hanya tersenyum. Berharap dengan segala dayaku, aku bisa meyakinkannya bahwa semua akan baik- baik saja.

Perlahan, jarak antara aku dn dia semakin menipis. Meninggalkan sepersekian mikrometer yang bahkan angin pun tidak dapat melewatinya. Jemarinya menggapai jemariku, menjalinnya perlahan, membentuk suatu jalinan kokoh.

holding-hands11

Aku dan dia mengerti. Sama seperti jalinan jemari kami, aku dan dia akan memperkokoh keatuan diri kami untuk terus bergerak. Dia tahu tak seharusnya ia khawatir. Karena ada satu jalinan tanpa bentuk yang akan terus mengikatkanku padanya.

Dia tak lagi bertanya. Hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Dia sudah tahu jawabannya. Meski ia melangkah ke depan, aku tidak akan ditinggalkan atau bahkan meninggalkannya. Karena jalinan ini, terlalu kuat untuk bisa dipisahkan hanya dengan beberapa dimensi bernama ruang dan waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: