Perjanjian Terakhir

Dia adalah seorang anak kecil. Dalam tubuh bidang dan tegapnya, ia hanyalah seorang anak kecil.

Beberapa wanita mencuri pandang, bahkan merayunya. Tapi, biar kukatakan pada kalian, dia hanyalah seorang anak kecil. Dia tak mengerti arti kerlingan mata bahkan rayuan kalin.

Lelaki ini hanya mengerti cara menebak bentuk awan dan indah juga gemerlapnya fantasi seorang anak kecil dalam dunianya sendiri.

Suatu ketika, ia terdiam. Ya, keceriaan dan celoteh kekanakannya menghilang. Ada 1 hal yang terjadi padanya pagi ini. Sesuatu yang besar yang mampu membuatnya terdiam.

Aku bisa menatapnya, namun tak pernah bisa menyentuhnya lagi. Aku telah kehilangan ragaku pagi ini, melayang- layang dengan jiwa transparan. Aku ingin menyentuhnnya, mengembalikan kegembiraannya yang telah kurenggut dengan kebodohanku.

Tiba- tiba matanya bergerak dan berhenti. Ia menatap tajam pada mataku, menembus transparannya ragaku yang sudah tidak bisa disebut sebagai sebuah raga lagi. Tatapannya menyapu habis segala molekul- molekul diriku yang sudah berbeda dengan molekul tubuhnya dan orang lain di sekitarnya. Ia tersenyum.

Aku terkesiap dan hanya menerka- nerka apakah ia benar- benar melihatku yang melayang ini, atau hanya berhalusinasi melihatku di tempat aku berada saat ini.

Beberapa orang menatap lelaki itu dengan tatapan duka dan kasihan. Untuk sekali ini, mereka mengerti kepedihan, kehilangan dan perasaan anak kecil dengan tubuh lelaki dewasa itu. Kedukaan mereka bertambah saat melihat senyum di bibir sang lelaki.

Tiba- tiba lelaki ini berdiri. Senyumnya tetap tersungging. Ia bejalan mendekati aku yang entah apa ini. Ia tiba di depanku. Aku gelagapan, walau tahu tak ada yang bisa melihatku dengan keadaanku saat ini. Tiba- tiba ia berbisik di telinga transparanku,

“Ikut aku ke tempat kita biasa bersama..” ucapnya. Ia berjalan, dan aku, entahlah.. melayang atau terbang, yang pasti tidak berjalan karena aku tidak bisa menapakan kakiku di tanah.

051016parkbenchbrattleborov

Ia duduk di kursi taman. Memulai kebiasaannya saat menunggu  kedatanganku, ya, menebak bentuk awan putih yang berarak, sama seperti saat aku masih bisa menyentuhnya. Tiba- tiba ia terdiam, berbalik, seakan bisa menatapku. Kemudian ia memanggil namaku,

“Kencana..” panggilnya. Tangisku pecah, meski aku dengan tubuhku yang tak lagi nyata ini tidak tahu dari mana datangnya air mata ini. Ia tetap tersenyum.

“Kencana, aku akan berubah..” ucapnya pelan.

Tangisku mengeras, dan aku tidak peduli. Tidak ada yang bisa melihat atau mendengarkanku lagi.

“Kencana, aku tahu aku tak sanggup bila sendiri.. Tapi aku akan berubah.. Menjadi lelaki kokoh dan tak lagi bergantung padamu..” ucapnya dengan segala perjuangannya menahan lelehan air matanya.

“Kencana, aku tahu kita telah membuat perjanjian untuk selalu bersama.. Aku mencintaimu.. Tapi aku tidak akan menahanmu di sini, karena perjanjian kita atau karena perasaanku.. Kau berhak mendapatkan yang lebih dariku.. Tapi Kencana, aku hanya akan berubah untukmu..” ucapnya.

Bulir- bulir air matanya menetes. Aku ingin merengkuhnya, namun perbedaan molekul kami tidak akan memungkinkan kami untuk bisa saling bersentuhan. Kami larut dalam khidmatnya kesedihan kami. Tak ada kata yang lagi yang bisa terucap dari bibir kami.

Aku mendekatinya, mendekatkan bibirku pada telinganya yang masih nyata.

“Aku akan terus melihatmu.. memperhatikan peningkatan perubahanmu..” ucapku. Ia menengadah. Tatapan kami bertemu. Senyum kami terkembang.

“Ini adalah perjanjian terakhir kita..” ucapnya masih dengan senyumnya.

“Selamat tinggal..” ucap kami bersamaan. Sebuah cahaya mengeliliku, menariku dari dunia fana dan dia, satu- satunya lelaki dalam hidupku.

“Selamat tinggal, Kencana..”

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. katadila
    Jul 03, 2009 @ 15:48:11

    saya lagi sedih, trus randomly i read all blogs in this site. dan ini adalah tulisan pertama yang saya baca. setelah baca, saya jadi makin sedih deh 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: