Surat Cinta 1

Halo, apa kabar, mas? Aku di sini baik-baik saja, namun mungkin masih merasa sedikit kekurangan, karena kau tidak sedang berada di sisiku sekarang. (Hal itu sudah jelas menjadi alasan mengapa kita saling berkirim surat).

Rasanya, aku masih bisa mengingat, saat kita bersantai di sebuah café. Kau sudah memesankan makanan kesukaanku, walau aku terlambat datang sore itu. Sungguh, kemacetan kota Bandung di saat Weekend memang bisa membuat orang marah-marah tanpa alasan dan untungnya, aku masih bisa bersabar dan tidak marah-marah padamu. Waktu itu kau tiba-tiba menyatakan perasaanmu padaku. Jantungku seperti akan meledak, berdebar-debar tak karuan. Untung aku tidak punya penyakit jantung, kalau iya, tidak akan ada kata kita saat ini. Sebenarnya, setahun sebelum waktu kau menyatakan perasaanmu padaku, aku sudah menerima sinyal-sinyal aneh darimu. Kau yang biasanya tidak tahan tidak punya pacar, setelah putus dengan pacarmu yang terakhir tiba-tiba saja tak langsung mencari pacar. Biasanya hari ini kau putus, besok kau akan punya gandengan baru lagi. Kemudian sikapmu yang menjadi lebih dewasa dan juga perhatianmu yang berbeda dari biasanya. Sempat aku berpikir, mungkin aku cuma GR saja. Hahahaha. Bagaimana tidak, sebenarnya di waktu yang sama aku pun sudah mulai memiliki perasaan-perasaan yang berbeda dari sebelumnya padamu.

Mas, kita sudah berteman lama, dan kita sudah bisa mengerti satu sama lain. Tujuh tahun kita berteman. Tujuh tahun. Tujuh. Apabila ada yang berkata bahwa kau dan aku akan berakir seperti saat ini, aku pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil melemparkan sepatuku pada orang yang mengatakannya. Tapi sekarang, rasanya aku bahagia sekali, karena kau dan aku, bersama.

Sempat aku berpikir lama sebelum akhirnya aku menerima perasaanmu waktu itu, Mas. Aku takut bila kita tak berakhir bahagia, aku tidak akan memilikimu sebagai teman, sahabatku yang paling baik dan mengerti aku. Aku takut aku akan menjauhimu. Kau yang sempurna dengan segala kekuranganmu. (Aku merasa kalau aku harus meng-copy kutipan itu.)

Tapi akhirnya, aku menerimamu. Kau meyakinkanku, bahwa kau tak bermain-main lagi. Kau serius, dan akulah pilihanmu. Aku benar-benar bahagia, Mas. Saat kita menjalaninya, semua senyum, tawa, tangis, dan amarah adalah bagian dari kita. Kita pernah saling tak bicara karena hal sepele, namun akhirnya kita tetap bersama. Dan sekarang, kita telah resmi bersama. Kau dan aku. Kita. Aku bahagia sekali. Kau menunjukkan keseriusanmu padaku dan benar-benar melakukan apa yang kau katakan saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Kau bilang bahwa aku dan kau tidak main-main. Kau katakan padaku bahwa kau akan meminangku saat waktunya tiba nanti.

Mas, aku rindu.

Mas, 2 bulan kau di sana dan baru kita reguk kebersamaan kita yang suci ini 4 bulan. Baru saja kita bersama, namun kau sudah pergi. Walau aku mengerti bahwa ini untuk masa depan kita, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun, mas. Aku tahu aku melebih-lebihkan. Tapi Mas, aku rindu sekali. Tapi tak perlu cemas, karena 2 bulan lagi aku pun akan menyusulmu ke sana dan menemanimu menyelesaikan studimu sampai selesai, seperti rencana kita.

Mas, tunggu aku, aku akan segera datang dengan membawa kejutan kecil yang akan membawa kebahagiaan terbesar untuk kita. Aku rindu. Tunggu aku, Mas.

I Love You. I miss You.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: