Openness and sensitivity often exposes them to suffering and pain, yet also to a great deal of enjoyment

Seorang yang kreatif, biasanya terbuka, sensitive, dan juga penuh dengan kesenangan atau kebahagiaan.. terkadang, saat tindakannya yang benar tidak di praise atau dipuji, dia akan merasa tidak dihargai, namun terkadang, di saat yang sama, ia akan sangat cuek. Orang yang kreatif itu, pada suatu waktu, akan merasa sangat sediih.. entah kenapa merasa mellow dan tidak bersemangat.. istilahnya, dia menjadi orang “hitam”. Saat itu, apapun kejadian baik yang terjadi tidak akan menjadi hal baik baginya..

Akan tetapi, seorang yang kreatif, suatu waktu bisa menjadi seseorang yang penuh kebahagiaan, berbunga- bunga, pokoknya, semuanya menjadi terang benderang.. hal- hal yang buruk pun tidak pernah terlihat dihadapannya..

Intinya.. seorang yang kreatif, bisa menjadi selalu positif di satu waktu dan di waktu lain, menjadi negatif.

Passionate about their work and extremely objective about it as well

Biasanya, seorang yang kreatif memiliki passion atau semangat yang menggebu- gebu untuk melakukan sesuatu yang sedang dikerjakannya. Dia akan melakukan tugasnya dengan semangat dan tentu saja dengan senang hati..

Namun.. saat tugasnya ini ternyata tidak terlalu disukainya atau tidak sesuai dengan keinginannya atau prinsipnya, dia akan melakukannya dengan lamaaaaaaa.. karena tidak ada semangat di dalamnya..

Contohnya, jika orang ini suka dengan kegiatan outdoor, dia akan penuh semangat bekerja di luar ruangan ini, namun saat ia harus dihadapkan pada pekerjaan dibalik meja, ia akan berkerja agak lama atau bahkan menolaknya, karena dia tidak terlalu menyukainya..

Rebellious and conservative

Seorang yang kreatif itu biasanya adalah orang yang berpikiran terbuka. Kadang dia akan melakukan hal- hal gila yang diluar kebiasaan, contohnya seperti mengabaikan peraturan..

Pernah denger kan, ada orang yang bilang.. “Peraturan dibuat untuk dilanggar..”

Nah, bentuk pelanggaran ini adalah suatu pemikiran yang jelas adalah sesuatu yang luar biasa..

Jadi teringat akan masa SMU saya.. Sekolah saya dulu berasrama, semua waib masuk ke dalam asrama.. akan tetapi, saat istirahat makan siang, kami dilarang masuk ke dalam asrama dan asrama pun dikunci.. lalu.. apa yang kami, yang merupakan anak SMU itu lakukan?? Hahaha.. waktu itu.. berinisiatiflah kami masuk lewat jendela.. dan.. hahahaha.. kami ketahuan..

Dari situ, setelah ketahuan.. kami pun memikirkan hal lainnya..

Cerita di atas adalah suatu bukti bahwa orang kreatif adalah orang yang ‘rebel’ alias nakal..

Kemudian, seorang yang kreatif pun biasanya bersikap konservatif.. atau bisa disebut, dia strict terhadap aturan.. hal ini membuat dia tidak terlalu keluar batasan, seperti budaya atau agama yang dianutnya.. (walau sebenarnya, tidak ada batasan dalam kreativitas)

Escape rigid gender role stereotyping

Kreatif itu tidak terbatas.. laki- laki atau perempuan, tua atau muda, atau bahkan kaya atau miskin, kreativitas itu milik mereka semua.. tidak ada yang namanya larangan berkreativitas untuk seseorang.

Kreativitas adalah hal yang luas dan menjadi hak bagi tiap manusia.. kreativitas tiap orang itu berbeda, karena kapasitas berpikir tiap orang pun berbeda, lingkungan mereka pun berbeda. Segala factor yang mempengaruhi kretivitas tiap orang itu pun berbeda.

Humble and proud at the same time

Pernah ga, kita merasa kita meraih sesuatu, tapi kita ga mencapainya sesuai dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Atau kita bilang..

“Kita berhasil mendapatkan tujuan kita.. tapi..”

Orang kreatif biasa seperti itu.. sikapnya ini merupakan bentuk kepeduliannya pada hal- hal yang biasanya tersisihkan atau kepeduliannya pada kreasinya yang biasanya dikerjakan dengan sungguh- sungguh itu ingin agar hasilnya jadi lebih baik..

Siapa sih, yang ga mau hasil yang terbaik..

Oh, ya.. masih berhubungan dengan paradox ini, seorang yang kreatif biasanya bangga akan ciptaannya tapi tetap saja protes atau complain tentang kekurangan kreasinya. Hal ini membuatnya melakukan ‘continuous improvement’, yang artinya adalah memperbaikinya dan menambah daya atau strength- nya agar jadi lebih baik..

Jadi, gunanya humble ini adalah agar mereka terus melakukan continuous improvement- nya..

Both extroverted and introverted

Pernah lihat atau dengar cerita tentang seseorang yang mau menciptakan lagu?? Dia harus berpikir kreatif untuk menghasilkan kreasinya itu. Bagaimana caranya?? Ada banyak cara.

Kalau kita lihat di acara infotainment, kadang seorang pembuat lagu selalu ditanya.. “Dapet ide dari mana? Pengalaman pribadi, ya?” tanya si wartawan.

“Oh.. ini pengalaman teman saya.. jadi, cewenya itu.. blablablabla..” jawab si pembuat lagu.

Dari percakapan itu, kita bisa lihat, dia berhasil menghasilkan sebuah lagu, karena dia berbicara dan berbagi dengan temannya.

Tapi, kadang- kadang, di satu kesempatan, si pembuat lagu akan menjawab seperti ini..

“Yah.. waktu itu saya lagi sendirian aja.. terus lagi mikirin sesuatu.. terus, jadi deh, lagunya..” jawab si pencipta lagu.

Dari perkataanyya itu, kita bisa tahu, kalau ternyata seorang yang kreatif pun butuh berdiam diri, sendirian, atau berada di tempat yang sepi, dan tenggelam dengan pemikirannya sendiri.

Dari kedua hal itu, seorang yang kreatif bisa menjadi seorang yang tertutup dan juga tebuka..

Alternate between imagination and fantasy, and a rooted sense of reality

Ingat Wright bersaudara? Mereka berdua berimajinasi untuk bisa terbang di angkasa. Mereka memiliki mimpi untuk bisa melihat bumi dari langit.

Ingat Alexander Graham Bell? Dia bermimpi untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan jarak yang jauh.

Ingat Tsai Lun? Dia berpikir untuk menemukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipakai untuk menulis, walau ada tragedy mengenaskan setelah penemuannya itu.

Apa kesamaan dari ketiganya?? Ya!! Tepat.. ketiganya memiliki imajinasi yang tentu saja pada saat itu adalah hal gila.. mereka memiliki imajinasi dan impian yang hebat. Akan tetapi, kalau kita lihat, mereka berhasil mengeksekusinya alias menjadikannya kenyataan.

Mereka adalah orang yang kreatif, memiliki impian, yang akhirnya, menjadi akar dari kenyataan di masa depan.

Previous Older Entries