Aku, Wewangian Hutan dan Angin

Aku adalah wewangian hutan berbambu. Semilir angin meniupkan wangiku menuju seluh dunia. Aku memang hanya akan menjadi kotak terlupakan saat angin tak mengingatku. Kau, dia, mereka hanya akan menjadikanku sebuah kotak harta karun bajak laut yang terkubur bersama tuanya usia. Tanpa peta, tanpa tanda X besar yang akan membantumu mengetahui dimana mereka mengkaramkan aku, layaknya mereka mengkaramkan kapal mereka.

Aku hanya berteman angin yang membawaku menjelajah dunia, menebarkan wangi semerbak hutan berbambu. Mengajakmu yang tahu akan arti keselarasan dan kesinambungan hubungan tiap elemen yang ada untuk melihat sepinya malam tanpa tiupan seruling penabur gemerlap langit.

Tengoklah dia yang terkulai, memandang kosong pada butiran pasir yang beristirahat bersama deburan ombak di pantai. Langkah gontai yang berbekas di lantai kasar tak bertekstur yang perlahan terhapus sapuan air laut. Meracau dalam hati akan sekelumit dosa yang terus berbayang.

Lihatlah dia yang terduduk, tubuhnya bungkuk menatap ceruk. Menimbang apakah mati akan menjadi sebuah pertanda baik bagi hidup dikemudian hari. Meratapi seluk beluk hidup indah yang hanya sebuah dusta yang perlahan terus mengejarnya. Pengkhianatan yang tak pasti apakah memang sesuatu yang baik atau benar- benar akan menjadi noda besar dalam putihnya hati.

Pandanglah dia yang berdiri, dengan tubuh tegak ia terlihat. Matanya memandang tajam, namun tanpa arah. Otaknya bekerja, namun tidak pernah temukan hasil, hanya berputar dan berputar dalam labirin kebimbangan tentang keputusan yang seharusnya menjadi sebuah langkah besar dan kemenangan dalam hidupnya. Jantungnya bertalu, namun mati seribu malam lalu.

Aku adalah wewangian hutan berbambu. Semilir angin meniupkan wangiku menuju seluruh dunia. Mengajakmu yang tahu arti keselarasan dan kesinambungan hubungan tiap elemen yang ada untuk melihat dari sudut pandangku tentang gegap gempita pagi yang disambut nyanyian merdu yang burung kuning.

Tengoklah dia yang terkulai, memandang kosong pada butiran pasir yang beristirahat bersama deburan ombak di pantai. Matanya terbuka lebar, teringat akan dosa yang memang telah menjadi bagian dari tubuhnya. Teringat bahwa dia terlalu bodoh untuk tetap berada di sana dan terdiam. Ia maju, dan hanya akan memandang ke depan bersama optimisme yang awan.

Lihatlah dia yang terduduk, tubuhnya bungkuk menatap ceruk. Menimbang apakah mati akan menjadi sebuah pertanda baik bagi hidup dikemudian hari. Mulutnya menganga, mengerti indahnya arak-arakan daun yang tertiup angin. Pengkhianatan adalah syurga sedetik, namun petaka seumur hidup. Ia bangun, dan akan menata diri, membayar syurga sedetik dengan neraka yang tak akan pernah akan ia sesali selamanya. Setidaknya, pengkhianatan itu akan terbayar dan kejujuran akan mengajarinya kembali untuk mendapat kepercayaan dan kekokohan, layaknya sang pohon berkayu.

Pandanglah dia yang berdiri, dengan tubuh tegak ia terlihat. Matanya memandang tajam, namun tanpa arah. Ia tersentak, otaknya berhenti berjalan dalam labirin dan ia melayang, menemukan mataharinya kembali, mengerti bahwa keputusannya adalah yang terbaik meski ternyata tak membuatnya bisa melangkah dengan langkah besar dan kemenangan. Yang terpenting sekarang hanyalah ia mendapat satu langkah kecil yang bisa mendekatkannya pada dirinya sendiri, untuk bisa menghargai dan menekuni indahnya sentuhan warna di langit biru.

Aku adalah wewangian hutan berbambu. Semilir angin meniupkan wangiku menuju seluruh dunia. Mengajakmu yang tahu arti keselarasan dan kesinambungan hubungan tiap elemen yang ada untuk mengerti bahwa tak selamanya gelap adalah kuasa, karena cahaya tak akan pernah tinggalkan dunia fana yang berkerlap- kerlip tanpa arah dan hanya memantulkan kesombongan jantannya sebuah kebohongan layaknya gelap yang juga tak akan pernah tinggalkan dunia cemerlang bagai bebatuan Kristal yang memantulkan cahaya bening penuh keindahan.

Aku adalah wewangian hutan berbambu. Semilir angin meniupkan wangiku menuju seluruh dunia.

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. mutya dyan asthami
    Aug 09, 2009 @ 23:39:35

    aaaaaaaa……. nida romantisssss…. hahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: